Sabtu, 07 Januari 2012

Yamaha Mio

Yamaha Mio 2010 (Jakarta)

Yamaha Mio, Belum Terkalahkan!

Di arena balap liar atau bali Jakarta, Yamaha Mio milik Zakie Ahmad katanya tersohor. Buktinya, sering dipinjam untuk diadu oleh bengkel lain. Bahkan sampai sekarang konon belum pernah terkalahkan. Terutama di kelas 58,5-an.

“Dari mulai bikin sampai saat ini, Yamaha Mio ini belum pernah kalah. Yang penting spek yang diadu sama. Yaitu menggunakan piston diameter 58,5 mm,” jelas Zakie.

Dan perlu diketahui juga regulasi kela ini,  semua peranti yang ada di dalam mesin harus standar dan enggak boleh pakai yang racing,” bilang pria yang punya tinggi badan 175 cm ini.

Yamaha Mio milik Zakie ini biasa dipakai 2 trek, yaitu 500 atau 700 meter. Tinggal pilih jarak mengikuti kemauan lawan. Mau berapa meter dijabani.

Tentu untuk membuat kencang Zaki tidak sendirian.  Pria berkulit putih ini memberikan kepercayaan kepada Dhanny. Dia mekanik Farrel Racing Cipete (FRC) di Jl. H. Jian Raya No. 5, Cipete, Jakrta Selatan.

“Pada bagian mesin yang boleh diganti hanya piston saja. Supaya motor Zakie lebih bertenaga, seher bawaan motor diganti dengan diameter 58,5 mm merek NPP,” jelas Dhanny.

Kalau dilihat dari wujudnya, seher yang digunakan milik Honda Sonic atau CS-1.  Dipilih yang punya diameter 58,5 mm atau oversize 50.

Namun kendalanya menggunakan seher ini punya lubang pen yang kecil. Ukurannya hanya 13 mm. Sedangkan milik Yamaha Mio lubang pennya 15 mm. Solusinya harus dibuatkan bos atau pengganjal di setang seher. Supaya tidak oblak.

Pen seher yang kecil menguntungkan untuk motor balap. Seher jadi enteng dan memperingan kerja mesin. Kalau pakai pen besar, bedanya lumayan terasa.

Alasan lain Dhanny lebih memilih seher Sonic karena lebih ringan. Bidang kontak dengan boring juga sedikit. Sehingga gesekan yang dihasilkan lebih ringan.

Apalagi didukung ring seher yang tipis. Membuat gesekan lebih enteng. Bandingkan jika menggunakan seher 58,8 milik Honda GL-Pro Neo Tech. Ring seher lebih tebal dan besar gesekan. Apalagi seher GL lebih berat dan gambot. Lumayan mengurangi power mesin.

Regulasi lain kelas 58,5 mm ini, tidak boleh naik stroke. “Makanya kru as dan setang seher tetap standar. Tidak boleh dicustom,” jelas mekanik yang mempunyai badan montok ini.

Selanjutnya, mekanik ramah ini melanjutkannya ke silinder head. Lantaran klep tidak boleh diubah, Dhanny hanya menyesuaikan lebar squishnya saja. Mengikuti diameter seher.

Untuk menaikkan kompresi, Dhanny minta bantuan tukang bubut. Untuk memapas head sebanyak 2 mm. “Itu supaya power bawah jadi lebih cepat,” jelas mekanik yang gonta-ganti rasio mengikuti panjang trek itu.

Setelah itu, Dhanny menerusukan pekerjaannya ke bagian noken as. Pinggang kem dibabat jadi 19 mm dan benjolannya dibuat 27 mm.

Terakhir, mekanik berpipi tembem ini membobok knalpot asli. “Biar lebih tajam dibuat free flow,” tutup mekanik berambut agak gondrong ini. 
DATA MODIFIKASI
Pelek: Akront
CDI: Standar
Sok belakang: YSS
Kanlpot:Bedur Exaust
FRC: 9110565

Tidak ada komentar:

Posting Komentar